Welcome To Our Site

May You Ejoying To This Site.

Monday, December 15, 2008

Keliling 3 Lingkaran

Dahulu kala di Tibet…Ada seeorang bernama Adiba, setiap kai ia bertengkar dan marah pada orang, dengan segera ia akan lari pulang dan lari mengelilingi rumah dan tanahnya sebanyak 3 kali, kemudian duduk tersengal-sengal.
Adiba sangat rajin bekerja, rumahnya makin lama makin besar, tanah makin luas, namun tak peduli berapa besar rumah dan tanahnya, setiap bertengkar atau marah, ia tetap akan berkeliling rumah dan tanahnya 3 keliling. Semua orang heran mengapa Adiba setiap kali marah akan berlari 3 keliling melingkari rumah dan tanahnya, namun bagaimanapun ditanya, Adiba tak bersedia menjelaskan.
Hingga suatu saat ketika Adiba beranjak tua, rumah dan tanahnya makin luas, saat marah dengan memegang tongkat ia mengelilingi rumah dan tanahnya, hingga ia selesai, matahari telah terbenam……….
Follow up:
Adiba duduk sendiri tersengal-sengal nafasnya, cucunya duduk disebelahnya dan bertanya : "kakek... usiamu telah lanjut, sekitar area ini juga tak ada seorangpun yang memiliki tanah seluas milikmu, jangan seperti dulu lagi setiap marah berkeliling 3 putaran. Bolehkah kau katakan padaku rahasia ini?". Adiba tak tahan mendengar permohonan cucunya, akhirnya diungkapkanlah rahasia yang selama ini terpendam dalam hatinya. Ia berkata : "ketika aku muda dan setiap bertengkar, berdebat dan marah, kemudian berlari keliling 3 putaran, sambil berlari sambil aku berpikir, rumah dan tanahku demikian kecil, mana aku ada waktu dan mana aku punya hak marah pada orang lain ? Berpikir demikian, maka hilanglah amarahnya, dan waktunya dipergunakan untuk berjuang dan berusaha bekerja".Cucunya bertanya lagi : "Kakek... umurmu sudah lanjut, juga sudah menjadi orang terkaya, mengapa masih lari berkeliling demikian?".Adiba dengan tersenyum berkata : sekarang aku masih bisa marah, saat marah sambil berjalan keliling 3 putaran sambil berpikir, rumah dan tanahku sudah sedemikian luas, untuk apa aku berperhitungan dengan orang lain, maka hilanglah amarahku.Setiap mawar berduri, sama seperti sifat dalam setiap diri manusia, ada sebagian hal yang tak dapat kau tahan/sabar.Melindungi sekuntum bunga mawar, tidak harus menghilangkan durinya, hanya bisa belajar bagaimana tidak terluka oleh durinya, masi ada lagi, yaitu bagaimana tidak membiarkan duri kita melukai orang yang kita cintai".

Thursday, October 30, 2008

Pornografi........???

Pornografi, adalah sebuah kata yang mempunyai banyak pandangan bahkan menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda, pornografi akan bermakna lain ketika dibicarakan dikalangan seniman,budayawan,sastrawan,atau bahkan para pelajar dan mahasiswa, dengan kata lain mereka mengaggap "pornografi" adalah sebuah pemaknaan yang belum memiliki artikulasi yang disepakati.

secara bahasa "Pornografi" (dari bahasa Yunani πορνογραφία pornographia — secara harafiah tulisan tentang atau gambar tentang pelacur) (kadang kala juga disingkat menjadi "porn," "pr0n," atau "porno") adalah penggambaran tubuh manusia atau perilaku seksual manusia secara terbuka (eksplisit) dengan tujuan membangkitkan rangsangan seksual, mirip, namun berbeda dengan erotika, meskipun kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian. Pornografi dapat menggunakan berbagai media — teks tertulis maupun lisan, foto-foto, ukiran, gambar, gambar bergerak (termasuk animasi), dan suara seperti misalnya suara orang yang bernapas tersengal-sengal. Film porno menggabungkan gambar yang bergerak, teks erotik yang diucapkan dan/atau suara-suara erotik lainnya, sementara majalah seringkali menggabungkan foto dan teks tertulis. Novel dan cerita pendek menyajikan teks tertulis, kadang-kadang dengan ilustrasi. (sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_pornografi)
Kalau kita mencoba "jujur" terhadap apa yang dimaksudkan dengan "pornografi" itu sendiri, mungkin "penafsiran" yang selama ini beredar di banyak kalangan akan mengahasilkan suatu kesepahaman, bahwa pornografi adalah suatu hal yang secara tabu untuk diexploitasi, jadi masalah sebenarnya bukan pornografinya, tapi lebih terletak pada acuan DASAR individu akan dibawa kemanakah pornografi itu…………………….?????

Dalam kehidupan, berbagai persoalan tak pernah ada habisnya. satu masalah terselesaikan, selanjutnya malah datang sejuta masalah lainnya. semua kesemerawutan ini seakan akan silih berganti dan tak mau berhenti. Kata orang, demikianlah romantika kehidupan yang memang sudah menjadi suratan…..(ck…ck…..ck………….ck).

Ketika dalam kultur masyarakat ini terjadi pembiasan dalam Penjernihan, Penjelasan, dan pengembalian kepada apa ygng sebenarnya, maka ini pun bagian dari persoalan. Yang menjadi permasalahan adalah, setiap kita, kini memang dihadapkan oleh realita semakin berkembangnya budaya pembiasan dalam etika kejujuran. Artinya etika keterus terangan dan keterbukaan dewasa ini maknanya sudah sedemikian jauh dipalingkan, bahkan dikaburkan, hingga akhirnya klarifikasi kehilangan makna yang sebenarnya. Karena ia tidak ditempatkan pada posisi yang tidak semestinya, begitupun yang terjadi dengan Rancangan Undang Undang Pornografi.
Meski nyata terkesan kebablasan, namun tak seorangpun dapat menghentikan. itu disebabkan karena etika ketidakjujuran ini sudah kadung menjadi trendi dan gaya kehidupan. Mengerikan, bila penyimpangan makna keterusterangan ini terjadi dalam lingkup sebuah kehidupan masyarakat terkecil. Karena dari akses negatifnya akan menimbulkan fitnah yang tidak berkesudahan. Tak pelak lagi kerukunan dan ketentraman bertetangga pun akan berubah menjadi bencana dan malapetaka.

Bila pemutarbalikan fakta juga terjadi dalam kehidupan berpolitik, tentu akan memicu pertarungan yang tidak sehat. Klarifikasi oleh para politisi akan dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan. Bahkan tak segan pula digunakan untuk menginjak lawan. Demi kepentingan pribadi maupun golongan, segala bentuk kebenaran pun pasti dinafikan. Akhirnya nuansa panggung politik tak ubahnya seperti panggung pergulatan kejahatan antara geng mafia. Satu sama lain saling menjatuhkan dan saling memfokuskan bidikan.

Ketika anggapan sebagian orang terhadap rancangan Undang-undang pornografi dianggap sebagai sesuatu yang bisa membahayakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terancamnya expoitasi seni dan budaya bahkan mungkin mengancam "perolehan isi perut mereka". ini adalah adalah scenario sandiwara kebohongan yang dilontarkan secara lugas dan spontan. Padahal itu semua tak lebih dari sekedar dagelan yang sangat menjijikan.
Sungguh, fenomena pembiasan terhadap nilai-nilai kejujuran akan kebenaran telah menyebabkan nilai-nilai etika menjadi semakin jatuh berguguran. Kemudian keduanya masuk kedalam bingkai pendistorsian. Sayangnya ini tidak disadari oleh banyak orang, mungkin disadari, tapi tidak dipedulikan. Bila problema sosial semacam ini terus berkembang dan dibiarkan, akan memberikan dampak yang tidak kondusif terhadap tatanan etika kehidupan social. Bahkan karenanya, kita akan kehilangan citra dan harga diri. Malu rasanya, kalau dari luar sana kita diteriaki sebagai bangsa besar namun dalam pengertian konotatif yang negatif, yaitu besar dalam mengakses budaya hipokrit.
So…….malu tidak…………????????

Saturday, June 2, 2007

KIND OF JIHAD

Jihad literally means to "struggle in the way of God" or "to struggle to improve one's self and/or society". [1] It is sometimes referred to as the sixth pillar of Islam, although it occupies no official status as such. Within Islamic jurisprudence, jihad is usually taken to mean military exertion against non-Muslim combatants.[2][3] In broader usage and interpretation, the term has accrued both violent and non-violent meanings. It can imply striving to live a moral and virtuous life, spreading and defending Islam, and fighting injustice and oppression, among other things.[4] In the languages of non-islamic cultures, the term is usually used to refer to Muslim 'Holy War' or any violent strife invoking Allah.
The primary aim of jihad is not the conversion of non-Muslims to Islam by force, but rather the expansion and defense of the Islamic state. In the classical manuals of Islamic jurisprudence, the rules associated with armed warfare are covered at great length.[3] Such rules include not killing women, children and non-combatants, as well as not damaging cultivated or residential areas.[5] More recently, modern Muslims have tried to re-interpret the Islamic sources, stressing that Jihad is essentially defensive warfare aimed at protecting Muslims and Islam.[3] Although some Islamic scholars have differered on the implementation of Jihad, there is consensus amongst them that the concept of jihad will always include armed struggle against persecution and oppression.[6] Some Muslims believe that the Prophet Muhammad regarded the inner struggle for faith a greater Jihad than even fighting [by force] in the way of God.[7]
Jihad has also been applied to offensive, aggressive warfare, as exemplified by early movements like the Kharijites and the contemporary Egyptian Islamic Jihad organization (which assassinated Anwar Al Sadat) as well as Jihad organizations in Lebanon, the Gulf states, and Indonesia.[1] When used to describe warfare between Islamic groups or individuals, such as Al-Qaeda's attacks on civilians in Iraq, perpetrators of violence often cite collaboration with non-Islamic powers as a justification.[8] The terrorist attacks like September 11, 2001 planned and executed by radical Islamic fundamentalists have not been sanctioned by more centrist groups of Muslims.[9]
Middle East Historian Bernard Lewis, who, it should be noted, has been criticized for an alleged "anti-Islamic" bias, points out that some modern Muslims sources try to portray jihad in a spiritual and moral sense when addressing non-muslims. Muslims tell people that they shouldn't try to define jihad by the actions of extremists, but at the balanced Muslims. For most of the fourteen centuries of recorded Muslim history, jihad was most commonly interpreted to mean armed struggle for the defense or advancement of Muslim power. In Muslim tradition, the world is divided into two houses: the House of Islam (Dar al-Islam), in which Muslim governments rule and Muslim law prevails, and the House of War (Dar al-Harb), the rest of the world, still inhabited and, more important, ruled by infidels. The presumption is that the duty of jihad will continue, interrupted only by truces, until all the world either adopts the Muslim faith or submits to Muslim rule. Those who fight in the jihad qualify for rewards in both worlds—booty in this one, paradise in the next....For most of the recorded history of Islam, from the lifetime of the Prophet Muhammad onward, the word jihad was used in a primarily military sense. [10]

Islam :Quranic words

Islam is a "Deen" not a religion. Thou we have discussed earlier about the root meaning of Islam in the light of Quran on numerous places of this website.But it is a healthy approach to revise it at this point. Islam provide us a solid foundation that helps mankind to grow and develop all the hidden potentialities which Allah Almighty has endowed human beings. By developing them one can lead a successful life in this world and hereafter, and this can only be excavate with the help of Divine guidance.For that matter God Almighty (Allah) has sent chain of messengers with his code of laws which are unchangeable and unreplaceable and asked mankind to abide these sent code of life. They were all muslim and stood on Islam as their "Deen". The last messenger of this chain was Muhammad peace be upon on whom Quran has been revealed and declared as a code of living for entire mankind. Now at this point of time Quran is with us in its very original form. Allah Almighty has said in Quran that He will take care of Quran's orginality. Quran has revealed in Arabic dialect and in order to understand its message one must know the language with its grammatical influence. There were people who have spent time inorder to compile the root meanings and concept of all Quranic words in the light of arabic grammer and also keeping this important factor in view that in which sense these words have been communicated among the arabs of that era when Quran has been revealed. This important element could'nt be overlooked by these savant linguistics and researchers beacaue they knew the time factor does bring changes in languages. We have strived to gather the work of these people which they have done inorder to reflect the true understanding with Quranic words. In this regard we are showing the findings and understanding of Lane form his Arabic to English lexicon published in 1827 by the name "Lane Lexicon". For our urdu readers we are also showing the work of Mr.Ghulam Ahmed Parvez who have worked intensively to bring forward the Quranic defintions in the light of same perspective as described above. As a start we have selected 63 words from Quran but we will add on more and more words for our readers "InshAllah". In the end we are requesting to all of our respectful readers that this is a research work of these two gentlemen, in case of any difference in opinion we will not welcome any kind of arguments, instead of that the person itself ponder in Quran and find the truth.

http://www.parvez-video.com/islam/Quran%20Words/index.asp